PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN KONSUMSI OKSIGEN PADA HEWAN "Jangkrik"

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
KONSUMSI OKSIGEN PADA HEWAN
LAPORAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah Fisiologi Hewan yang diampu oleh
Siti Nurkamilah, M.Pd.

Disusun Oleh:

Fitriani Dewi S                      15542030
Raisya Fajriani                       15543004
Riri Nur Syiam                      15543013
Siti Rosidah                           15544012
Yaman Hidayat                     15544014


Kelas : 3-B



PROGRAM STUDI: PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
GARUT
2017








Judul              : Konsumsi Oksigen Pada Hewan
Hari/Tanggal : Senin/5 Desember 2017

I.              Tujuan
·         Untuk mengukur banyaknya konsumsi oksigen pada serangga (jangkrik).
·         Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam respirasi.
·         Untuk mengetahui hubungan antara kecepatan respirasi pada hewan dengan kecepatan metabolismenya.

II.           Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
No.
Alat
Fungsi
1.

Respirometer Sederhana
Digunakan untuk mengukur laju pernapasan dan konsumsi oksigen spesimen pengamatan.
2.

Neraca Analitik

Digunakan untuk menimbang spesimen yang akan digunakan (jangkrik).
3.

Pipet Tetes
Digunakan untuk memasukkan larutan methylene blue ke dalam pipa kapiler berskala.
4.

Suntikan
Digunakan untuk memasukkan larutan methylene blue ke dalam pipa kapiler berskala (apabila sulit menggunakan pipet tetes).
5.

Gelas Kimia 100 mL
Digunakan untuk tempat penyimpanan sementara spesimen yang akan digunakan.
6.

Timer/Stopwatch
Digunakan untuk mengukur interval waktu yang digunakan.


Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
No.
Bahan
Fungsi
1.

Serangga (Jangkrik)

Digunakan sebagai spesimen yang diamati konsumsi oksigennya.
2.

Kristal KOH

Digunakan untuk menyerap atau mengikat CO2 yang dikeluarkan oleh spesimen selama proses pengamatan.
3.

Methylene Blue

Digunakan sebagai indikator penyusutan volume udara (konsumsi oksigen) pada tabung spesimen.
4.

Kapas
Digunakan untuk membungkus padatan KOH.
5.

Vaseline
Digunakan untuk menutupi celah-celah udara yang terdapat antara tabung spesimen dengan pipa kapiler berskala agar volume udara di dalam tabung spesimen tetap konstan.

III.        Cara Kerja
a.      Pengamatan 1
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.      Disiapkan jangkrik jantan dan betina dengan ukuran yang sama.
3.      Ditimbang satu per satu jangkrik dengan menggunakan Neraca analitik, agar mempermudah proses penimbangan jangkrik, timbang terlebih dahulu botol respirometer untuk menentukan berat botol, masukan jangkrik kedalam botol yang sudah ditimbang lalu timbang kembali keduanya untuk menentukan berat jangkrik.
4.      Disiapkan KOH secukupnya bungkus dengan kapas, keluarkan kembali jangkrik dari botol respirometer lalu masukan terlebih dahulu KOH dan jangkrik lalu tutup.
5.      Diberi vaseline pada bagian pertemuan antara botol dengan tutup agar tidak ada udara keluar masuk.
6.      Disimpan respirometer sederhana pada alasnya, kemudian dimasukkan larutan methylene blue ke lubang yang ada pada pipa kapiler berskala dengan jarum suntik atau pipet tetes.
7.      Diamati mulai dari garis berhentinya methylene blue pada saat dimasukan ke dalam lubang respirometer.
8.      Diamati selama 5 menit, dan diulangi hingga 5 menit ke 3.
9.      Selama pengamatan, apabila metilen blue sudah mencapai garis akhir respirometer, masukan kembali methylene blue pada bagian ujung dari respiroeter lalu amati kembali, disarankan jangan di buka pada bagian botolnya atau di cuci karna akan menyebabkan udara dari luar masuk ke dalam botol.
b.      Pengamatan 2
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.      Disiapkan dua jangrik jantan dengan ukuran tubuh yang berbeda.
3.      Ditimbang satu per satu jangkrik dengan menggunakan Neraca analitik, agar mempermudah proses penimbangan jangkrik, timbang terlebih dahulu botol respirometer untuk menentukan berat botol, masukan jangkrik kedalam botol yang sudah ditimbang lalu timbang kembali keduanya untuk menentukan berat jangkrik.
4.      Disiapkan KOH secukupnya bungkus dengan kapas, keluarkan kembali jangkrik dari botol respirometer lalu masukan terlebih dahulu KOH dan jangkrik lalu tutup.
5.      Diberi vaseline pada bagian pertemuan antara botol dengan tutup agar tidak ada udara keluar masuk.
6.      Disimpan respirometer sederhana pada alasnya, kemudian dimasukkan larutan methylene blue ke lubang yang ada pada pipa kapiler berskala dengan jarum suntik atau pipet tetes.
7.      Diamati mulai dari garis berhentinya methylene blue pada saat dimasukan ke dalam lubang respirometer.
8.      Diamati selama 5 menit, dan diulangi hingga 5 menit ke 3.
9.      Selama pengamatan, apabila metilen blue sudah mencapai garis akhir respirometer, masukan kembali methylene blue pada bagian ujung dari respiroeter lalu amati kembali, disarankan jangan di buka pada bagian botolnya atau di cuci karna akan menyebabkan udara dari luar masuk ke dalam botol.

IV.        Landasan Teori
Respirasi ialah proses penyederhanaan senyawa kimia dari zat makanan untuk mendapatkan energi. Pernafasan dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh organisme untuk menghasilkan energi dari hasil metabolisme. Ada dua macam pernafasan, yaitu pernafasan eksternal dan internal. Pernafasan eksternal meliputi proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dan uap air antara organisme dengan lingkungannya. Pernapasan internal disebut juga pernapasan seluler karena pernapasan ini terjadi di dalam sel,yaitu di dalam sitoplasma dan miokondria. Pernapasan seluler melalui tiga tahap, yaitu glikolisis, siklus krebs dan transfer elektron.
Alat respirasi adalah alat atau bagian tubuh tempat O2  dapat berdifusi masuk dan sebaliknya CO2  dapat berdifusi keluar. Alat respirasi pada hewan bervariasi antara hewan yang satu dengan hewan yang lain, ada yang berupa paru-paru, insang, kulit, trakea, dan paru-paru buku, bahkan ada beberapa organisme yang belum mempunyai alat khusus sehingga oksigen berdifusi langsung dari lingkungan ke dalam tubuh.
Pada insekta dan beberapa anthropoda lainya seperti chilliopoda, diplopoda dan beberapa laba-laba mempunyai sistem pernapasan yang disebut sistem trakea. Sistem pernapasan ini berupa saluran yang langsung menuju ke jaringan. Udara masuk ke dalam tubuh melalui kurang lebih 20 lubang kecil yang ada disepanjang permukaan tubuh dan organ tersebut biasa disebut dengan spirakel.
Bagi insekta berukuran kecil, proses difusi oksigen melalui sistem trakea sudah dapat membawa oksigen sehingga dapat mencangkup bagi proses pernapasan seluler. Akan tetapi, insekta yang besar, masuknya udara ke dalam spirakel secara aktif dibantu oleh pergerakan tubuh yang juga menggerakan secara ritmik tabung trakea.
Proses pernapasan insekta diawali dengan masuknya oksigen melalui spirakel dan diteruskan kedalam tabung trakea kemudian melalui trakeola (cabang trakea) menuju ke jaringan. Pada mekanisme ini oksigen menuju jaringan tidak dibawa oleh darah. Hal ini karena darah tidak mengandung hemoglobin, tetapi hanya mengandung cairan ekstraseluler yang disebut dengan cairan hemolimfa.
Untuk mengetahui konsumsi oksigen yang digunakan untuk proses respirasi dari suatu spesimen atau objek pengamatan maka digunakan suatu alat yang disebut respirometer sederhana. Respirometer sederhana adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan beberapa macam organisme hidup seperti serangga, akar, kecambah yang segar. Adapun reaksi yang terjadi antara KOH dengan CO2 adalah sebagai berikut :
KOH + CO2 → K2CO3 + H2O
Komponen alat

Respirometer sederhana terdiri atas dua bagian, yaitu :
a.       Tabung spesimen yang terbuat dari kaca dengan volume 8 cm. Fungsi dari tabung spsimen yaitu untuk tempat hewan/tumbuhan percobaan.
b.      Pipa kapiler berskala yang dikalibrasi teliti hinggaa 0,01 mL. Salah satu ujung dari pipa kapiler sesuai untuk menutup tabung spesimen
Tabung spesimen dan pipa kapiler berskala dapat dihubungkan/disatukan dengan erat sehingga kedap udara, dan dipasang pada bantalan dari logam atau plastik. Karena keduanya tebuat dari kaca maka ketika menghubungkan harus diolesi vaselin agar tidak pecah dan mudah dilepas kembali.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses respirasi pada hewan yaitu faktor internal dan eksternal:
1.      Faktor internal : aktivitas tubuh, kondisi fisik, jenis kelamin, dan berat badan.
2.      Faktor eksternal : temperatur, kadar O2 di dalam udara, konsentrasi CO2 di dalam udara, dan kelembapan.

V.              Hasil Pengamatan
a.      Hasil Pengamatan 1 (Perbandingan Konsumsi Oksigen Antara Jangkrik Jantan dan Betina)
Jenis Kelamin
Massa Tubuh
(gram)
Konsumsi O2 (mL) pada periode 5 menit ke-
Rata-rata
Konsumsi O2
(mL/5 menit/gr)
Rata-rata
Konsumsi O2
(mL/menit/gr)
1
2
3
Jantan
0,36
0,83
0,22
0,41
0,48
0,27
Betina
0,41
0,57
0,31
0,46
0,44
0,21

            Perhitungan konsumsi O2 jangkrik jantan
            = Rata-rata/waktu/massa tubuh
            = 0,48 mL/5menit/0,36 gram
            = 0,27 mL/menit/gram
            Perhitungan konsumsi O2 jangkrik betina
            = Rata-rata/waktu/massa tubuh
            = 0,44 mL/5 menit/0,41 gram
            = 0,21 mL/menit/gram

b.      Hasil Pengamatan 2 (Perbandingan konsumsi Oksigen Antara Jangkrik yang Memiliki Ukuran Berbeda Tetapi Jenis Kelamin Sama)
1)      Jangkrik Jantan dengan Bobot Tubuh = 0,59 gram

Skala awal Metylen Blue berada pada skala = 0,19 mL

·         Tabel Hasil Pengamatan:

No
Pengulangan
Banyaknya Strip/ Skala
Jumlah Hasil (mL)
1
5’ I
8 strip
0,08 mL
(0,19 – 0,27)
2
5’ II
19 strip
0,19 mL
(0,27 – 0,46)
3
5’ III
14,5 strip
0,145 mL
(0,46 – 0,605)
Jumlah
0,415 mL
Rata-rata
0,1383 mL


·         Perhitungan Konsumsi O2          = Rata-rata / waktu / Berat Jangkrik
= 0,1383 mL / 5 menit / 0,59 gram
                                                      = 0,0469

Jadi, Konsumsi Oksigen dalam 1 gram selama 1 menit adalah sebanyak 0,0469 mL.


2)      Jangkrik Jantan dengan Bobot Tubuh = 0,30 gram

Skala awal Metylen Blue berada pada skala = 0,27 mL

·         Tabel Hasil Pengamatan:

No
Pengulangan
Banyaknya Strip/ Skala
Jumlah Hasil (mL)
1
5’ I
27 strip
0,27 mL
(0,27 – 0,54)
2
5’ II
18 strip
0,18 mL
(0,54 – 0,72)
3
5’ III
9 strip
0,09 mL
(0,72 – 0,81)
Jumlah
0,54 mL
Rata-rata
0,18 mL


·         Perhitungan Konsumsi O2          = Rata-rata / waktu / Berat Jangkrik
= 0,18 mL / 5 menit / 0,30 gram
                                                      = 0,12

Jadi, Konsumsi Oksigen dalam 1 gram selama 1 menit adalah sebanyak 0,12 mL.

VI.           Pembahasan
Untuk mengetahui konsumsi oksigen pada serangga (jangkrik) maka jangkrik yang akan diamati dimasukan ke dalam tabung spesimen pada respirometer sederhana yang sebelumnya telah dimasukan Kristal KOH yang dibungkus dengan kapas, penambahan kristal KOH ini dimaksudkan untuk mengikat CO2 yang dihasilkan dari proses pertukaran udara yang dilakukan oleh jangkrik. Selain itu pada pipa kapiler berskala dimasukan methylene blue yang berfungsi sebagai indikator untuk mengetahui laju penyusutan volume udara dan konsumsi O2 yang dilakukan oleh jangkrik tersebut dan leher pada pipa kapiler yang diolesi vaselin bertujuan untuk mencegah udara dari luar masuk ke dalam dan sebaliknya sehingga volume udara di dalam tabung spesimen tetap konstan. Pada pengamatan ini dilakukan dua perbandingan; yang pertama perbandingan konsumsi oksigen pada jangkrik jantan dan betina dan yang kedua perbandingan konsumsi oksigen pada jangkrik yang memiliki ukuran/massa tubuh yang berbeda tetapi memiliki jenis kelamin yang sama.
a.      Pembahasan 1 (Perbandingan Konsumsi Oksigen Antara Jangkrik Jantan dan Betina)
Pada saat jangkrik belum dimasukkan ke dalam tabung respirometer, keadaan jangkrik cenderung normal. Saat jangrik telah dimasukkan ke dalam tabung respirometer dan ditutup dengan pipa kapiler berskala yang telah diolesi vaselin, pernapasan jangkrik cukup stabil.  Methylene blue yang dijadikan indikator penyusutan volume bergerak secara cepat pada 5 menit pertama konsumsi oksigen pada jangkrik jantan adalah sebanyak 0,83 mL sedangkan pada jangkrik betina sebanyak 0,57 mL. Lalu pada 5 menit kedua methylene blue bergerak secara perlahan hal ini menandakan bahwa oksigen yang dikonsumsi oleh jangkrik jantan maupun betina lebih sedikit dibanding pada 5 menit pertama yaitu pada jantan sebesar 0,22 mL dan pada betina sebesar 0,31 mL. Pada 5 menit terakhir konsumsi oksigen pada kedua jangkrik tersebut meningkat kembali yaitu pada jantan sebesar 0,41 mL dan pada betina sebesar 0,46 mL. Konsumsi oksigen yang berkurang dapat disebabkan karena ketersedian oksigen di dalam tabung spesimen yang terbatas sehingga menyebabkan keadaan atau kondisi kedua jangkrik tersebut dimulai pada 5 menit kedua dan ketiga cenderung lemas dan tidak melakukan gerakan yang signifikan, setelah percobaan selesai dan jangkrik dikeluarkan dari tabung respirometer, keadaan jangkrik menjadi lemas hampir tidak bergerak sedikit pun.
Setelah dilakukan perhitungan rata-rata konsumsi oksigen per menit pada kedua jangkrik tersebut baik jantan maupun betina maka dapat diperoleh simpulan bahwa konsumsi oksigen jangkrik jantan lebih besar dibanding jangkrik betina (0,27 mL/menit/gr > 0,21 mL/menit/gr). Namun dilihat dari rata-rat konsumsi oksigen kedua jangkrik tersebut tidak terdapat perbedaan yang terlalu besar antara konsumsi jangkrik jantan maupun betina.

b.      Pembahasan 2 (Perbandingan konsumsi Oksigen Antara Jangkrik yang Memiliki Ukuran Berbeda Tetapi Jenis Kelamin Sama)
Jangkrik Jantan dengan Bobot Tubuh = 0,59 gram
Jangkrik berjenis kelamin jantan yang pertama ditimbang dengan menggunakan neraca analitik, menghasilkan bobot tubuh sebesar 0,59 gram. Kemudian, jangrik tersebut dimasukkan ke dalam botol respirometer yang sudah berisi KOH yang dibungkus dengan kapas. Lalu, botol respirometer ditutup dengan tutup respirometer. Kemudian, celah-celah tutup botol respirometer dilapisi atau diolesi dengan vaselin agar tidak ada oksigen yang masuk ke dalam botol respirometer.
Indicator Metylen Blue dimasukkan ke celah ukur respirometer sebagai indicator banyaknya oksigen yang dihirup oleh jangkrik.
Pada saat 5 menit pertama Metylen Blue ada pada skala pertama strip 0,19 mL. Setelah 5 menit menghasilkan 8 strip skala yaitu dihasilkan dari (0,19 s.d. 0,27) dengan jumlah hasil sebanyak 0,08 mL.
Pada saat 5 menit kedua menghasilkan 19 strip skala yaitu dihasikan dari (0,27 s.d. 0,46) dengan jumlah hasil sebanyak 0,19 mL. Jumlah hasil ini lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah hasil 5 menit pertama.
Pada saat 5 menit ketiga menghasilkan 14,5 strip skala yaitu dihasilkan dari (0,46 s.d. 0,605) dengan jumlah hasil 0,145 mL. Hasil ini lebih besar dibandingkan jumlah hasil 5 menit pertama dan 5 menit kedua.
Setelahnya, ketiga hasil tersebut dijumlahkan dan dirata-ratakan. Sehingga dari (0,08; 0,19 dan 0,145) menghasilkan rata-rata sebesar 0,1383 mL. Hasil ini kemudian dimasukkan ke dalam rumus perhitungan konsumsi oksigen yaitu (0,1383 mL/ 5 menit / 0,59 gram) menghasilkan konsumsi oksigen dalam 1 gram selama 1 menit sebanyak 0,0469 mL.

Jangkrik Jantan dengan Bobot Tubuh = 0,30 gram
Jangkrik berjenis kelamin jantan yang kedua ditimbang dengan menggunakan neraca analitik, menghasilkan bobot tubuh sebesar 0,30 gram. Kemudian, jangrik tersebut dimasukkan ke dalam botol respirometer yang sudah berisi KOH yang dibungkus dengan kapas. Lalu, botol respirometer ditutup dengan tutup respirometer. Kemudian, celah-celah tutup botol respirometer dilapisi atau diolesi dengan vaselin agar tidak ada oksigen yang masuk ke dalam botol respirometer.
Indicator Metylen Blue dimasukkan ke celah ukur respirometer sebagai indicator banyaknya oksigen yang dihirup oleh jangkrik.
Pada saat 5 menit pertama Metylen Blue ada pada skala pertama strip 0,27 mL. Setelah 5 menit menghasilkan 27 strip skala yaitu dihasilkan dari (0,27 s.d. 0,54) dengan jumlah hasil sebanyak 0,27 mL.
Pada saat 5 menit kedua menghasilkan 18 strip skala yaitu dihasikan dari (0,54 s.d. 0,72) dengan jumlah hasil sebanyak 0,18 mL. Jumlah hasil ini lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah hasil dari 5 menit pertama.
Pada saat 5 menit ketiga menghasilkan 9 strip skala yaitu dihasilkan dari (0,72 s.d. 0,81) dengan jumlah hasil 0,09 mL. Hasil ini sangat kecil jika dibandingkan jumlah hasil 5 menit pertama dan 5 menit kedua.
Setelahnya, ketiga hasil tersebut dijumlahkan dan dirata-ratakan. Sehingga dari (0,27 mL; 0,18 mL dan 0,09 mL) menghasilkan rata-rata sebesar 0,18 mL. Hasil ini kemudian dimasukkan ke dalam rumus perhitungan konsumsi yaitu (0,18 mL/ 5 menit / 0,30 gram) menghasilkan konsumsi oksigen dalam 1 gram selama 1 menit sebanyak 0,12 mL.

VII.        Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh simpulan sebagai berikut:
·               Konsumsi oksigen pada serangga (jangkrik):
1.      Jangkrik jantan dengan massa tubuh 0,36 gr adalah 0,27 mL/menit/gr.
2.      Jangkrik betina dengan massa tubuh 0,41 gr adalah 0,21 mL/menit/gr.
3.      Jangkrik jantan dengan massa tubuh 0,59 gr adalah 0,0469 mL/menit/gr
4.      Jangkrik jantan dengan massa tubuh 0,30 gr adalah 0,12 mL/menit/gr
·               Faktor-faktor yang berpengaruh di dalam respirasi:
1.      Setelah dilakukan pengamatan diketahui bahwa rata-rata konsumsi O2 pada proses respirasi yang dilakukan oleh  jangkrik jantan lebih besar dibandingkan jangkrik betina, sehingga jenis kelamin dapat berpengaruh terhadap proses respirasi.
2.      Setelah dilakukan pengamatan diketahui bahwa rata-rata konsumsi O2 pada proses respirasi yang dilakukan oleh jangkrik yang memiliki ukuran lebih kecil lebih besar dibandingkan jangkrik yang berukuran besar, sehingga ukuran tubuh berpengaruh terhadap proses respirasi.
·         Hubungan proses respirasi dengan proses metabolisme adalah semakin cepat metabolisme yang terjadi di dalam tubuh maka semakin cepat pula laju respirasi yang dilakukan jangkrik sehingga konsumsi O2 nya semakin banyak.





DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Diah, dkk. 2007. Biologi SMA dan MA untuk kelas XI. Jakarta: Esis





LAMPIRAN




Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN "AKTIVITAS ENZIM AMILASE"

PRAKTIKUM 1_ FISIOLOGI HEWAN_ "SISTEM PENCERNAAN PADA Paramecium sp."

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN "PROSES OKSIDASI DAN PROSES RESPIRASI"