LAPORAN KULIAH LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) _"SISTEM SARAF"
LAPORAN KULIAH LABORATORIUM
FISIOLOGI HEWAN
LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)
SISTEM SARAF
Senin, 15 Januari 2018
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Fisiologi Hewan yang diampu oleh:
Dr. H. Hudiana Hernawan, M.S
Siti Nurkamilah, M. Pd.
Disusun Oleh:
Fitriani Dewi S 15542030
Raisya Fajriani 15543004
Riri Nur Syiam 15543013
Siti Rosidah 15544011
Yaman Hidayat 15544014
Kelas : 3-B
FAKULTAS ILMU
TERAPAN DAN SAINS
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BIOLOGI
INSTITUT
PENDIDIKAN INDONESIA
GARUT
2018
PRAKTIKUM
1
Judul : Sistem Saraf (Refleks Pada Katak)
Hari/Tanggal : Senin/15 Januari 2018
I.
Tujuan
Untuk mempelajari refleks normal dan
spinal pada katak.
II.
Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
No.
|
Alat
|
Fungsi
|
1.
|
Bak Bedah
|
Digunakan untuk meletakan katak pada
proses pengamatan.
|
2.
|
Statif
|
Digunakan untuk menggantungkan katak
selama proses pengamatan berlangsung.
|
3.
|
Rantai
Penggantung
|
Digunakan untuk mengaitkan rahang
bawah katak pada statif.
|
4.
|
Sonde/batang
pengaduk
|
Digunakan untuk memberikan rangsangan
pada katak.
|
5.
|
Gunting Bedah
|
Digunakan untuk proses dekapitasi pada
katak.
|
6.
|
Beaker
Glass/Gelas Kimia 50 mL
|
Digunakan untuk menampung
larutan-larutan kimia yang dibutuhkan.
|
7.
|
Beaker
Glass/Gelas Kimia 2000 mL
|
Digunakan sebagai akuarium pada proses
pengamatan.
|
8.
|
Cawan Petri
|
Digunakan untuk menampung larutan
NaCl.
|
9.
|
Spirtus
|
Digunakan untuk memanaskan sonde.
|
10.
|
Pipet Tetes
|
Digunakan untuk meneteskan larutan
kimia pada objek pengamatan (katak).
|
11.
|
Pematik
|
Digunakan untuk menyalakan spirtus.
|
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
No.
|
Bahan
|
Fungsi
|
1.
|
Katak
|
Berfungsi sebagai objek pengamatan.
|
2.
|
Larutan HNO3 pekat
|
Berfungsi sebagai merangsang katak
ketika proses sumasi rangsangan dengan zat kimia.
|
3.
|
Larutan H2SO4
1%
|
Berfungsi sebagai merangsang katak
ketika proses sumasi rangsangan dengan zat kimia.
|
4.
|
Larutan H2SO4
3%
|
Berfungsi sebagai merangsang katak ketika
proses sumasi rangsangan dengan zat kimia.
|
5.
|
Larutan H2SO4
5%
|
Berfungsi sebagai merangsang katak
ketika proses sumasi rangsangan dengan zat kimia.
|
6.
|
Larutan
Fisiologis (NaCl 0,6%)
|
Berfungsi sebagai larutan fisiologis
untuk mengembalikan kesadaran katak setelah didekapitasi.
|
7.
|
Tissue
|
Berfungsi untuk menutupi ujung
potongan kepala katak setelah didekapitasi.
|
III.
Cara Kerja
a.
Katak Normal
1.
Dipegang
katak yang masih hidup dengan tangan kiri dan digenggam kedua kaki belakangnya,
lalu didekatkan sonde atau batang pengaduk pada daerah mata. Diamati refleks
yang terjadi.
2.
Disentuh
nares externa pada katak tersebut, diamati pergerakan nares externa tersebut..
3.
Diusap
bagian tenggorokan hingga bagian perut dan diamati pergerakan anggota badan
anterior.
4.
Disentuh
bagian dorsal atau lateral tubuh katak, diperhatikan apakah katak tersebut
mengeluarkan bunyi atau tidak.
5.
Dipegang
dua kaki depannya dan dibiarkan dua kaki belakangnya bebas, lalu diteteskan
larutan HNO3 pekat menggunakan pipet tetes pada bagian punggung
katak tersebut. diamati pergerakan yang terjadi.
6.
Dilakukan
sumasi rangsangan kimia dengan diteteskannya larutan H2SO4
secara berurutan dari konsentrasi terendah (1%;3%;5%) pada bagian kaki katak
tersebut. Diamati pergerakan yang terjadi.
b.
Katak yang Didekapitasi
1.
Disiapkan
gunting bedah untuk melakukan dekapitasi pada katak tersebut. Katak yang
didekapitasi yaitu katak yang dihilangkan otaknya sehingga hanya memiliki
spinal (spinal frog).
2.
Dipegang
bagian kepala katak dengan tangan kiri.
3.
Dimasukan
gunting bedah ke dalam mulut katak dan angkat kepalanya.
4.
Digunting
kepala katak hingga batas dibawah membrane tympani usahakan lidah katak tidak
terpotong.
5.
Ditutup
ujung potongan tersebut dengan tissue yang telah dibasahi oleh larutan
fisiologis NaCl 0,6%.
6.
Digantungkan
katak tersebut pada statif dengan cara dikaitkan rantai penggantung pada rahang
bawahnya.
7.
Ditetesi
larutan fisiologis pada salah satu bagian tubuh katak untuk mengembalikan
kesadaran katak tersebut.
8.
Setelah
katak tersebut siuman. Dilakukan perlakuan-perlakuan berikut terhadap katak
tersebut:
·
Dimasukkan
katak tersebut ke dalam beaker glass 1 mL yang telah diisi air, diperhatikan
gerakannya (apakah katak tersebut dapat berenang atau tidak).
·
Diterlentangkan
katak tersebut pada bak bedah, lalu diamati pergerakannya apakah katak tersebut
berusaha membalikan badannya atau tidak.
·
Dimiringkan
bak bedah tersebut dan diletakkan katak tersebut diatasnya. Diamati
pergerakannya.
·
Dicuci
kaki katak dengan air kran.
·
Digantungkan katak tersebut pada statif dengan mengkaitkan
rantai penggantung pada rahang bawahnya.
·
Dilakukan
sumasi dengan rangsangan zat-zat kimia dengan cara: dicelupkan ujung jari katak
pada larutan H2SO4 (dimulai dari konsentrasi terendah
1%;3%;5%), diulangi beberapa kali hingga terjadi respon. Diperhatikan reaksi
yang ditunjukkan katak tersebut.
·
Dipanaskan
sonde dengan menggunakan api dari spirtus.
·
Disentuhkan
sonde yang telah dipanaskan pada jari-jari kaki depan dan jari-jari kaki
belakang. Diperhatikan reaksi yang ditunjukkan katak tersebut.
·
Disentuhkan
atau diusapkan sonde yang telah dipanaskan pada bagian ventral atau perutnya.
Perhatikan reaksi yang ditunjukkan katak tersebut.
IV.
Landasan Teori
Otak tersusun dari kumpulan neuron, dimana
neuron merupakan sel saraf panjang seperti kawat yang mengantarkan pesan-pesan
listrik lewat sistem saraf dan otak. Sel-sel pada suatu daerah otak
menghubungkan bagian-bagian tubuh yang lain secara kontinyu dan otomatis.
Neuron ini mengirimkan sinyal dengan menyebar secara terencana, semburan
listrik terhentak-hentak yang membentuk bunyi yang jelas yang
timbul dari gelombang kegiatan neuron yang terkoordinasi, dimana gelombang itu
sebenarnya sedang
mengubah bentuk otak dan membentuk sirkuit otak menjadi pola-pola yang lama kelamaan akan menyebabkan embrio yang lahir nanti mampu
menangkap suara, sentuhan, dan gerakan (Purwanto, 2009 : 83).
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar,
namun ada pula gerak yang terjadi tanpa
disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang,
yaitu dari reseptor ke saraf sensori dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah
oleh otak kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan yang dibawa oleh
saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor. Sedangkan
gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan yang terjadi secara otomatis
terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak (Wulandari, 2009: 209).
Adapun berdasarkan fungsinya sistem saraf dapat dibedakan atas
tiga jenis. Pertama yaitu sel saraf sensorik, merupakan sel yang membawa impuls
berupa rangsangan dari reseptor (penerima rangsangan) ke sistem saraf pusat
(otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel
saraf indera karena berhubungan dengan alat indera. Kedua adalah sel saraf
motorik yang berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari ssusunan saraf
pusat (otak atau sumsum tulang belakang) menuju kelenjar tubuh. Sel saraf
motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak, karena berhubungan erat dengan
otot sebagai alat gerak. Jenis ketiga adalah sel saraf penghubung disebut juga
dengan sel saraf konektor. Hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan
rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik (Wilarso, 2001).
Apabila rangsangan dengan kekuatan tertentu diberikan kepada
membran sel saraf, membran akan mengalami perubahan elektrokimia dan perubahan
fisiologis. Perubahan tersebut berkaitan dengan adanya perubahan permeabilitas
membran yang menyebabkan terjadinya permiabel tehadap Na+ dan sangat
kurang permiabel terhadap K+. Reseptor merupakan impuls yang
merupakan perubahan fisik atau kimia di lingkungan reseptor. Dalam merespon
stimulus, reseptor menghasilkan potensial aksi yang akan diteruskan oleh saraf
eferen ke pusat pengintegrasi refleks dasar, sedangkan otak lebih tinggi
memproses semua informasi dan meneruskannya melalui saraf eferen ke efektor
(otot atau kelenjar) yang melaksanakan respon yang diinginkan (Soewolo, 1994).
Pada tiap segmen tubuh vertebrata terdapat
satu pasang saraf perifer. Pada sebagian besar saraf spinal, neuron aferen dan
eferen terletak berdekatan, tetapi sumsum tulang belakang saraf terbagi menjadi
akar dorsal dan akar ventral dan neuronnya terpisah. Dalam akar dorsal terdapat
neuron aferen dan mempunyai suatu pembesaran yaitu ganglion akar dorsal, yang
mengandung badan sel-selnya sendiri. Badan sel neuron aferen hampir selamanya
terletak dalam ganglion pada saraf kranial dan saraf spinal spinal. Neuron
aferen masuk ke dalam sumsum tulang belakang dan berakhir pada sinapsis dengan
dendrit atau badan sel dari interneuron. Saraf spinal semua vertebrata pada
dasarnya sama, meskipun pada vertebrata yang paling primitif akar-akar itu di
perifer tidak bargabung dan beberapa neuron aferen keluar dari sumsum melalui
akar dorsal (Villee, 1988).
Gerak refleks ialah gerakan
pintas ke sumsum tulang belakang. Ciri refleks adalah respon yang terjadi berlangsung
dengan cepat dan tidak disadari. Sedangkan lengkung refleks adalah lintasan
terpendek gerak refleks. Neuron konektor merupakan penghubung antara
neuron sensorik dan neuron motorik. Jika neuron konektor berada di otak,maka
refleksnya disebut refleks otak. Jika terletak di susmsum tulang belakang, maka
refleksnya disebut refleks tulang belakang. Gerakan pupil mata yang
menyempit dan melebar karena terkena rangsangan cahaya merupakan contoh refleks
otak. Sedangkan gerak lutut yang tidak disengaja merupakan gerak sumsum tulang
belakang (Idel,antoni, 2000 : 210).
Suatu refleks adalah
setiap respon yang terjadi secara otomatis tanpa disadari. Terdapat dua macam
refleks:
1.
Refleks sederhana atau refleks dasar, yang menyatu tanpa
dipelajari, misalnya refleks menutup mata bila ada benda yang menuju ke mata.
2.
Refleks yang dipelajari, atau refleks kondisiskan yang dihasilakan
dengan belajar.
Rangkaian jalur saraf yang
terlibat dalam aktifitas refleks disebut lengkung refleks, yang terdiri atas
lima komponen dasar: (1) reseptor (2)saraf eferen (3) pusat pengintegrasi (4)
saraf eferen (5) efektor. Reseptor merupakan impuls yang merupakan
perubahan fisik atau kimia di lingkungan reseptor. Dalam merespon stimulus,
reseptor menghasilkan potensial aksi yang akan diteruskan oleh saraf eferen ke
pusat pengintegrasi refleks dasar, sedangkan otak lebih tinggi memproses semua
informasi dan meneruskannya melalui saraf eferen ke efektor (otot atau
kelenjar) yang melaksanakan respon yang diinginkan (Soewolo, 1994 : 241).
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan
oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen
neuron sensor, interneuron, dan neuron motor, yang mengalirkan impuls saraf
untuk tipe reflek tertentu. Gerak refleks yang paling sederhana hanya
memerlukan dua tipe sel saraf yaitu neuron sensor dan neuron motor. Gerak
refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan
menyakitkan. Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh saraf
sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (Wulandari, 2009: 209).
Gerak refleks adalah gerak spontan yang
tidak melibatkan kerja otak. Gerak ini dilakukan tanpa kesadaran. Refleks
sebenarnya merupakan gerakan respon dalam usaha mengelak dari suatu rangsangan
yang dapat membahayakan atau mencelakakan. Gerak refleks berlangsung dengan
cepat sehingga tidak disadari oleh pelaku yang bersangkutan. Gerak refleks
dapat dibedakan menjadi refleks kompleks dan refleks tunggal. Refleks kompleks
adalah refleks yang diikuti oleh respon yang lain, misalnya memegang bagian
yang kena rangsang dan berteriak yang dilakukan pada waktu yang sama. Refleks
tunggal adalah refleks yang hanya melibatkan efektor tunggal. Berdasarkan
tempat konektornya refleks dibedakan menjadi dua yaitu refleks tulang belakang
(refleks spinalis) dan refleks otak (Franson, 1992).
Rasa
nyeri setelah induksi nyeri cara kimiawi pada hewan uji ditunjukkan dalam
bentuk gerakan geliat, frekuensi gerakan ini dalam waktu tertentu menyatakan
derajat nyeri yang dirasakannya. Nyeri permukaan dapat terjadi apabila ada
rangsangan secara kimiawi, fisik, mekanik pada kulit, mukosa, dan akan terasa
nyeri di daerah rangsang. Nyeri pertama dihantarkan oleh serabut nyeri jenis A
delta yaitu serabut saraf dengan pembungkus lapisan bermielin, garis tengah 2-5
μm. Serabut nyeri jenis A delta ini menghantarkan isyarat nyeri lebih cepat
dari saraf perifer ke medula spinalis karena terjadi penghantaran rangsang
secara saltatoris (gaya melompat) yaitu dari satu nodus Ranvier ke nodus
Ranvier lain, antar nodusnodus ini dilewati oleh garis aliran listrik dan
dengan penghantaran saltatoris ini dimungkinkan suatu laju penghantaran yang
lebih cepat sampai dengan 120m/det (Puspitasari dkk, 2003: 50).
V.
Hasil Pengamatan
a.
Katak Normal
Jenis
Rangsangan/Perlakuan
|
Reaksi
Yang Ditunjukkan
|
Sonde atau batang pengaduk di
dekatkan ke daerah mata katak.
|
Kelopak mata bergerak dan mata
mengedip.
|
Nares externa katak disentuh oleh
tangan praktikan.
|
Nares externa membuka dan menutup.
|
Bagian tenggorokan diusap hingga
bagian perut.
|
Tenggorokan katak mengembang dan
mengempis.
|
Disentuh bagian lateral atau
dorsal tubuh katak.
|
Katak tidak mengeluarkan suara dan
tidak bereaksi apapun.
|
Salah satu bagian tubuh katak di
tetesi larutan HNO3 pekat.
|
Katak menggerakan kedua kakinya
dengan begitu cepat dan kuat disertai gerakan memberontak.
|
Kaki katak di tetesi larutan H2SO4
dengan konsentrasi 1 %.
|
Kaki katak yang ditetesi larutan
tersebut bergerak, namun tidak sekuat dan secepat ketika ditetesi larutan HNO3.
|
Kaki katak di tetesi larutan H2SO4
dengan konsentrasi 3 %.
|
Kaki katak yang ditetesi larutan
tersebut tidak bergerak.
|
Kaki katak di tetesi larutan H2SO4
dengan konsentrasi 5 %.
|
Kaki katak yang ditetesi larutan
tersebut tidak bergerak.
|
b.
Katak Yang Didekapitasi
Jenis
Rangsangan/Perlakuan
|
Reaksi
Yang Ditunjukkan
|
Katak di masukan ke dalam gelas
kimia atau beaker glass bervolume 2000 mL yang telah diisi air.
|
Katak tidak menunjukan reaksi
apapun dan tidak bergerak untuk berenang.
|
Katak di terlentangkan pada bak
bedah.
|
Katak tidak menunjukan pergerakan
atau reaksi apapun dan tidak berusaha untuk membalikan tubuhnya yang
diletakan terlentang.
|
Ujung jari katak dicelupkan ke
dalam larutan H2SO4 dengan konsentrasi 1%.
|
Kedua kaki katak bergerak namun
respon yang diberikan cukup lama atau lambat.
|
Ujung jari katak dicelupkan ke
dalam larutan H2SO4 dengan konsentrasi 3%.
|
Kedua kaki bergerak dan responnya
lebih cepat dibandingkan ketika dicelupkan ke dalam larutan H2SO4
dengan konsentrasi 1%.
|
Ujung jari katak dicelupkan ke
dalam larutan H2SO4 dengan konsentrasi 5%.
|
Kedua kaki katak bergerak dan
responnya cepat namun hanya sebentar.
|
Jari kaki depan katak disentuh
dengan sonde yang telah di panaskan.
|
Kedua kaki depan bergerak.
|
Jari kaki belakang katak disentuh dengan
sonde yang telah di panaskan.
|
Kedua kaki belakangnya bergerak
sedikit diikuti badan katak juga yang bergerak sedikit.
|
Bagian ventral atau perut katak
disentuh menggunakan sonde yang telah dipanaskan.
|
Kedua kaki depan dan belakang
bergerak disertai perut atau bagian ventral tubuh katak yang mengejut.
|
VI.
Pembahasan
Sistem saraf pusat terdiri atas otak
dan sumsum tulang belakang. Pada mekanisme sistem saraf impuls yang diterima
oleh neuron sensorik akan diteruskan ke saraf pusat oleh neuron motorik, neuron
motorik juga akan mengalirkan tanggapan dari sistem saraf pusat ke efektor yang
biasanya berhubungan dengan otot sebagai alat gerak. Gerak terbagi atas dua
macam, yaitu gerak sadar dan gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan
panjang, yaitu dari reseptor ke saraf sensorik dibawa ke otak untuk selanjutnya
diolah oleh otak kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan yang dibawa
oleh saraf motorik sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Sedangkan gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan yang terjadi secara
otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak.
Pada percobaan ini bertujuan untuk
mengetahui gerak refleks normal dan gerak spinal pada katak. Perlakuan yang
diberikan bermacam-macam sesuai dengan yang telah tertera pada cara kerja dan
hasil pengamatan. Pengamatan pertama, perlakuan/rangsangan diberikan pada katak
normal (belum didekapitasi), sedangkan pengamatan kedua, perlakuan/rangsangan
diberikan pada katak yang telah didekapitasi. Katak yang didekapitasi adalah
katak yang otaknya telah dihilangkan sehingga hanya memiliki spinal (spinal frog).
Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat
perbedaan reaksi atau tanggapan yang diberikan oleh katak normal dan katak yang
didekapitasi. Perbedaan ini menunjukan bahwa proses dekapitasi memberikan
pengaruh terhadap tanggapan atau gerak yang diberikan oleh katak tersebut.
Pada katak normal ketika diberikan impuls atau rangsangan
baik dengan disentuh atau diberikan sumasi rangsangan kimia, respon yang
diberikan cepat dan spontan serta diikuti gerakan-gerakan yang kuat. Sedangkan
pada katak yang telah didekapitasi sikap badannya lemah, gerakan atau tanggapan
yang diberikan pun lemah dan direspon dengan lambat bahkan terdapat beberapa
impuls yang tidak ditanggapi sama sekali. Pada katak yang didekapitasi yang
dirusak adalah cerebrum atau otak besar tapi respon yang diberikan tetap ada
namun katak meresponnya dengan lambat. Hal ini dikarenakan gerak refleks yang
dihasilkan oleh katak tersebut melibatkan sumsum tulang belakang atau disebut
gerak refleks cerebellar. Namun penurunan reaksi atau respon pada katak ini dapat
terjadi dikarenakan koordinasi yang kurang baik karena sel-sel sarafnya
sebagian telah rusak, berbeda ketika impuls diberikan pada katak normal respon
yang diberikan cepat dan kuat karena penyampaian impuls ke saraf pusat tidak
terganggu.
VII. Pertanyaan
1.
Pada katak yang telah didekapitasi
apakah masih sanggup merespon setiap rangsang yang diberikan? Jelaskan jawaban
anda!
Jawab:
Setiap impuls atau rangsangan yang di berikan kepada katak
yang telah didekapitasi masih dapat direspon namun setiap tanggapan yang
diberikan oleh katak tersebut lemah dan kecepatan respon lebih lambat. Hal ini
terjadi karena sebagian besar sel sarafnya telah rusak sehingga rambatan impuls
yang diberikan tidak dapat dikoordinasikan dengan sempurna.
2.
Apakah yang dimaksud dengan refleks?
Jelaskan bagaimana mekanismenya!
Jawab:
Gerak refleks adalah gerakan yang tidak disadari atau
gerakan yang baru disadari setelah gerakan tersebut terjadi. Gerak refleks ini
merupakan gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon langsung
setelah adanya rangsangan atau impuls. Mekanisme hantaran impuls pada gerak
refleks mirip dengan gerak biasa akan tetapi impuls pada gerak refleks tidak
melalui pengolahan oleh otak. Neuron yang ada pada otak hanya berperan sebagai
konektor saja. Terdapat dua jenis neuron konektor yaitu neuron konektor di otak
dan neuron konektor di sumsum tulang belakang.
Mekanisme pada gerak refleks, rangsangan yang datang dari
reseptor tidak semuanya sampai ke otak untuk diolah. Berikut ini urutan
perjalanan impuls pada gerak refleks secara skematis:
Rangsang – reseptor – neuron sensorik – konektor
(otak/sumsum tulang belakang) – neuron motorik – efektor.
VIII. Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan mengenai refleks normal dan spinal pada katak diperoleh simpulan
bahwa katak normal menunjukkan gerak refleks yang kuat disertai respon yang
cepat sedangkan pada katak yang telah didekapitasi (spinal) menunjukkan gerak
refleks yang lemah dan respon yang lambat bahkan tidak menunjukan tanggapan
sama sekali, hal ini dikarenakan koordinasi yang kurang baik karena kerusakan
pada sel-sel saraf.
DAFTAR PUSTAKA
Lidya,
Hicha. 2015. Aktivitas Refleks Pada Katak.
[online] Tersedia: http://www.academiaedu.edu/9214726/aktivitas_refleks_pada_katak. Diakses pada tanggal 18 Januari
2018 pada pukul 22.11 WIB.
Anonim.
2017. Pengertian, Mekanisme dan Urutan
Serta Contoh Gerak Biasa dan Gerak Refleks. [online] Tersedia: http://www.pelajaran.co.id/2017/27/pengertian-mekanisme-dan-urutan-contoh-gerak-biasa-dan-gerak-refleks.html. Diakses tanggal 19 Januari 2018
pada pukul 12.06 WIB.
LAMPIRAN






















Komentar
Posting Komentar