LAPORAN KULIAH LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) "SISTEM EKSKRESI (UJI URINE)"

LAPORAN KULIAH LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)

SISTEM EKSKRESI (UJI URINE)

Senin, 15 Januari 2018

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Hewan yang diampu oleh:

Dr. H. Hudiana Hernawan, M.S

Siti Nurkamilah, M. Pd.

Disusun Oleh:
Fitriani Dewi S                      15542030
Raisya Fajriani                       15543004
Riri Nur Syiam                      15543013
Siti Rosidah                           15544011
Yaman Hidayat                     15544014

Kelas : 3-B



FAKULTAS ILMU TERAPAN DAN SAINS
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA
GARUT

2018







PRAKTIKUM 3

Judul              : Sistem Ekskresi (Uji Urine)
Hari/Tanggal : Senin/15 Januari 2018
I.              Tujuan
-          Untuk memeriksa ada tidaknya glukosa dalam urine
-          Untuk memeriksa ada tidaknya chloride dalam urine
-          Untuk mengenal bau ammonia dari hasil penguraian urea dalam urine
II.           Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
No.
Alat
Fungsi
1.
Pipet Tetes


Digunakan untuk mengambil larutan dalam unuran kecil, yang dibutuhkan yaitu pertetes
2.
Tabung Reaksi


Digunakan untuk mereaksikan urine dengan larutan uji
3.
Rak Tabung Reaksi


Digunakan sebagai tempat menyimpan tabung reaksi
4.
Tabung Spirtus


Digunakan untuk membakar tabung reaksi yang berisi larutan yang diuji
5.
Penjepit Kayu


Digunakan untuk menjepit tabung reaksi ketika dilakukan pembakaran
6.
Korek


Untuk menyalakan spirtus/ membakar tali spirtus
7.
Gelas Kimia


Media untuk menyimpan urine

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
No.
Bahan
Fungsi
1.
Urine


Sebagai sampel yang digunakan untuk diuji urine
2.
Larutan Benedict


Digunakan sebagai indicator ada tidaknya glukosa dalam urine
3.
Larutan AgNO3


Digunakan sebagai indicator ada tidaknya klorida dalam urine

III.        Cara Kerja
1.      Uji Glukosa dalam Urine
1)      Didihkan 3 mL larutan Benedict’s dalam tabung reaksi
2)      Ditambahkan 8 tetes urine ke dalam larutan tersebut
3)      Dipanaskan selama 1-2 menit kemudian biarkan dingin
4)      Diamati adanya perubahan warna (endapan) yang terjadi bila:
Hijau      : kadar glukosa 1%
Merah    : kadar glukosa 1,5%
Orange   : kadar glukosa 2 %
Kuning   : kadar glukosa 5%
2.      Uji Klorida dalam Urine
1)      Dimasukkan 5 mL urine ke dalam tabung reaksi
2)      Ditetesi larutan AgNO3 sebanyak 1-2 tetes
3)      Diamati perubahan yang terjadi, endapan putih menunjukkan adanya chloride radikal.
3.      Uji Amonia dalam Urine
1)      Dimasukkan 1 mL urine ke dalam tabung reaksi
2)      Dipanaskan dengan tabung spirtus
3)      Diciumi aroma atau bau dari urine tersebut, bagaimana baunya?
IV.        Landasan Teori
Sistem urinaria terdiri atas ginjal, ureter,kantung kemih, uretra. System ini membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urine yang merupakan hasil sisa metabolism. Ginjal mempertahankan susunan kimia cairan tubuh melalui beberapa proses yaitu filtrasi plasma darah oleh glomerulus, absoprsi kembali secara selektif zat-zat seperti garam, air, gula sederhana, asam amino oleh tubulus dan sekresi zat-zat oleh tubulus dari darah ke dalam lumen tubulus dalam bentuk urin. Proses sekresi ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic, dan ion hydrogen yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat-zat yang mungkin terjadi.
Sistem ekskresi adalah sistem yang berperan dalam proses pembuangan zat yang sudah tidak diperlukan atau zat yang membahayakan tubuh, dalam bentuk larutan. Urin atau air seni adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian dikeluarkan dalam tubuh melalui proses urinasi. Urin normal berwarna jernih transparan warna kuning muda. Urin berasal dari zat warna empedu. Urine berbau khas jika dibiarkan agak lama, berbau ammonia pada kisar 6.8-7.2. kandungan air, urea, asam urat, ammonia, keratin, asam oksalat, asam fosfat, asam sulfat, klorida. Volume urine normal, kisaran 900-1200ml.
Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit.
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang merah. Pada manusia, ginjal berukuran sebesar kepalan tangan, yaitu ukuran panjang 10 sampai 12 cm, lebar 5-6 cm, dan tebal 3-4 cm dengan berat sekitar 140 gram. Ginjal terdapat satu pasang yang terletak di bagian dorsal dinding tubuh sebelah kiri dan kanan tulang belakang.
Bagian- bagian ginjal dari luar ke dalam adalah korteks, medulla, dan pelvis.
1)      Struktur ginjal
a.       Korteks ( lapisan terluar )
Pada bagian korteks dan medulla ginjal terdapat sekitar 1 juta nefron. Nefron merupakan satuan structur dan fungsional paling kecil dari ginjal. Nefron berfungsi sebagai alat penyaring. Susunan nefron terdiri atas bagian- bagian berikut :
·         Terdapat badan Malpighi, yang terdiri dari glomerulus dan kapsul bowman. Glomerulus merupakan kumpulan cabang- cabang halus pembuluh darah. Sedangkan kapsul bowman merupakan lapisan yang membungkus glomerulus.
·         Tubulus kontortus yang meliputi tubulus proksimal, henle, dan tubulus kontortus distal.
·          Medulla ( sumsum ginjal), terdapat banyak tubulus kolektivus ( tubulus pengumpul ) yang bermuara pada pelvis renalis atau rongga ginjal.
·         Pelvis (rongga ginjal), yaitu tempat menampung urine sebelum di alirkan ke kantong kemih (urinaria).
2)      Saluran ginjal terdiri dari :
·         Ureter, fungsinya menyalurkan urine ke kantung kemih (urinaria).
·         Kantung kemih, fungsinya menampung urine sementara.
·         Uretra, fungsinya mengeluarkan urine ke luar tubuh.
3)      Fungsi ginjal sebagai berikut :
·         Mengekskresikan zat- zat buangan seperti ura, asam urat, kreatinin, kraetin, dan lain- lain.
·         Menjaga kesemimbangan air dengan cara : Air dibuang bila pemasukan banyak. Mengurangi pengeluaran bila pemasukan sedikit.
·         Menjaga tekanan osmosis dengan cara : Menjaga pH darah dan cairan tubuh lainnya. Membatasi ekskresi garam bila pemsukan sedkit.
·         Menjaga pH darah dan cairan tubuh lainnya.
4)      Proses pembentukan urin
a)      Filtrasi (penyaringan)
Proses filtrasi terjadi di kapsul Bowman dan glomerulus. Dinding luar kapsul Bowman tersusun dari satu lapis sel epitel pipih. Antara dinding luar dan dinding dalam terdapat ruang kapsul yang berhubungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal. Dinding dalam kapsul Bowman tersusun dari sel-sel khusus (prodosit).
Proses filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik (tekanan darah) dan tekanan onkotik (tekanan osmotik plasma), dimulai ketika darah masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut melewati pori-pori endotelium kapiler, glomerulus, kemudian menuju membran dasar, dan melewati lempeng filtrasi, lalu masuk ke dalam ruang kapsul Bowman.
b)      Reabsorpsi (penyerapan)
Proses reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal, lengkung henle, dan sebagian tubulus kontortus distal.reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitel di seluruh tubulus ginjal. Banyaknya zat yang direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu. Zat-zat yang direabsorpsi adalah air, glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HbO42-, dan sebagian urea.
Proses reabsorpsi dimulai ketika urin primer (bersifat hipotonis dibanding plasma darah) masuk ke tubulus kontortus proksimal. Kemudian terjadi reabsorpsi glukosa dan 67% ion Na+, selain itu juga terjadi reabsorpsi air dan ion Cl- secara pasif. Bersamaan dengan itu, filtrat menuju lengkung henle. Filtrat ini telah berkurang volumenya dan bersifat isotonis dibandingkan cairan pada jaringan di sekitar tubulus kontortus proksimal. Pada lengkung henle terjadi sekresi aktif ion Cl- ke jaringan di sekitarnya. Reabsorpsi dilanjutkan di tubulus kontortus distal. Pada tubulus ini terjadi reabsopsi Na+ dan air di bawah kontrol ADH (hormon antidiuretik). Di samping reabsorpsi, di tubulus ini juga terjadi sekresi H+, NH4+,  urea, kreatinin, dan obat-obatan yang ada pada urin.
Hasil reabsorpsi ini berupa urin skunder yang memiliki kandungan air, garam, urea dan pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
c)      Augmentasi (pengumpulan)
Urin sekunder dari tubulus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urin dibawa ke pelvis renalis, urin mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penimpanan sementara urin.
5)      Unsur-unsur dalam urine, yaitu:
·         Urea (25-30 gram) merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia.
·         Amonia, pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urin segar. Pada penderita diabetes millitus, kandungan amonia dalam urinnya sangat tinggi.
·         Kreatinin dan kreatin (kreatinin : produk pemecahan kreatin), normalnya 20-26 mg/kg pada laki-laki, dan 14-22 mg/kg pada perempuan.
·         Asam urat, adalah hasil akhir terpenting oksidasi purin dalam tubuh. Asam urat sangat sukar larut dalam air, tetapi mengendap membentuk garam-garam yang larut dengan alkali. Pengeluaran asam urat meningkat pada penderita leukimia, penyakit hati berat.
·         Asam amino: hanya sedikit dalam urin. Pada penderita penyakit hati yang lanjut karena keracunan, maka jumlah asam amino yang diekskresikan meningkat.
·         Klorida (terutama NaCl), pengeluarannya tergantung dari masukan.
·         Sulfur, berasal dari protein yang mengandung sulfur pada makanan.
·         Fosfat di urin adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat, berasal dari makanan yang mengandung protein berikatan denagn fosfat.
·         Oksalat dalam urin rendah. Pada penderita hiperoksaluria jumlah oksalat relatif tinggi.
·         Mineral: Na, Ca, K, Mg ada sedikit dalam urin.
·         Vitamin, hormon dan enzim dalam urin sedikit.
V.           Hasil Pengamatan
1.      Uji Glukosa dalam Urine
Sampel Urine
Hasil Perubahan Warna Akhir
Konsentrasi warna yang berubah
Keterangan
Urine Fitri
Biru
-
Urine tidak mengandung glukosa (Termasuk urine normal)

Keterangan:
·         Biru              : -
·         Hijau            : +
·         Merah           : ++
·         Orange         : +++
·         Kuning         : ++++
2.      Uji Chlorida dalam Urine
Sampel Urine
Ada Tidaknya Endapan Putih
Konsentrasi Endapan
Keterangan
Urine praktikan (Fitri)
Ada Endapan
+
Mengandung Klorida radikal dengan konsentrasi klorida yang sedikit

Keterangan:
·         Endapan sedikit                   : +
·         Endapan agak banyak          : ++
·         Endapan banyak                  : +++
·         Endapan sangat banyak       : ++++
3.      Uji Amonia dalam Urine
Sampel Urine
Ada Tidaknya Bau Amonia
Konsentrasi Bau Amonia
Keterangan
Urine praktikan (Fitri)
Ada Bau Amonia
+
Mengandung Amonia dengan konsentrasi bau yang sedikit atau bau ammonia tidak terlalu pekat

Keterangan:
·         Bau Amonia, sedikit bau                 : +
·         Bau Amonia, bau sekali                   : ++
·         Bau Amonia, sangat bau sekali        : +++
VI.        Pembahasan
1.      Uji Glukosa dalam Urine
Urine merupakan sisa hasil metabolisme tubuh yang sudah tidak terpakai lagi oleh tubuh. Glukosa mempunyai sifat mereduksi. Ion cupri direduksi menjadi cupro dan mengendap dalam bentuk merah bata. Semua larutan sakar yang mempunyai gugusan aldehid atau keton bebas akan memberikan reaksi positif. Na sitrat dan Na karbonat (basa yang tidak begitu kuat) berguna untuk mencegah pengendapan Cu++ . Sukrosa memberikan reaksi negative karena tidak mempunyai gugusan aktif (aldehid/keton bebas).
Reaksi benedict sensitive karena larutan sakar dalam jumlah sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis lebih mudah mengenalnya. Hanya terlihat sedikit endapan pada dasar tabung.  Uji benedict lebih peka karena benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa secara kasar, karena dengan berbagai kadar glukosa memberikan warna yang berlainan.
Menurut hasil praktikum yang kami lakukan benedict yang telah dipanaskan sampai mendidih dan di tetesi dengan urine sebanyak 8 tetes mengalami perubahan warna dari biru pekat menjadi agak biru atau biru yang tidak pekat. Hal ini membuktikan bahwa urine yang diuji tidak mengandung glukosa artinya adalah bahwa urine yang diuji adalah urine normal yang tidak menjangkit penyakit diabetes.
2.      Uji Chlorida dalam Urine
Pada uji kandungan klorida dalam urin, dilakukan dengan menambahkan 2 tetes larutan AgNO3, kemudian melihat hasilnya, dan hasil yang diperoleh oleh kelompok kami yaitu bahwa warna urin berubah dari kuning menjadi putih, disebabkan karena urin tersebut mengandung garam. Kemudian terjadi endapan, endapan itu merupakan endapan garam. Endapan yang dihasilkan adalah sedikit sekali. Hal ini membuktikan bahwa urine mengandung klorida radikal dengan konsentrasi yang sedikit.
3.      Uji Amonia dalam Urine
Untuk pengujian ammonia dalam urine yang dilakukan oleh kami menghasilkan bau amoniak dari hasil penguraian urea dalam urin. Yaitu dengan memanaskan terlebih dahulu sampai mendidih kemudian diketahui bagaimana baunya, ternyata setelah dilakukan uji, urin tersebut memiliki berbau walau sedikit dan tidak terlalu pekat, hal ini dikarenakan billirubin dan billiverdin bekerja, dan pemilik urine tidak sering meminum air putih yang banyak. Maka dengan hal dapat dibuktikan bahwa urine mengandung ammonia walau dengan konsentrasi yang sedikit.

VII.     Pertanyaan
1.      Uji Glukosa dalam Urine
1)      Buatlah siklus perubahan glukosa dalam tubuh dan jelaskan mengapa terjadi perubahan demikian!
Jawaban:
·         Siklus perubahan glukosa dalam tubuh:
Karbohidrat à glukosa à dengan enzim amylase menjadi à amilum à diserap oleh tubuh sebagai energy à sebagian disimpan sebagai cadangan energy di hati dan otot à sisa yang tidak terpakai akan di keluarkan bersamaan dengan urine.
·         Terjadi perubahan demikian disebabkan karena karbohidrat yang dimakan dan masuk lewat mulut akan dicerna secara kimiawi dengan enzim amylase yang terkandung di saliva yang akan mengubah glukosa menjadi amilum.
2)      Bagaimanakah jumlah glukosa dalam darah setelah beberapa saat anda makan? Bagaimanakah hubungannya dengan kadar glukosa optimum darah?
Jawaban:
Glukosa dalam tubuh akan bertambah banyak setelah beberapa saat kita makan.
Hubungannya dengan kadar glukosa adalah ketika makan, pankreas akan mengeluarkan insulin untuk membantu menurunkan gula darah. Kemudian, antara waktu makan, pankreas akan mengeluarkan glukagon untuk menjaga kadar gula darah agar seimbang. Insulin dan glukagon merupakan hormone yang berfungsi menyeimbangkan kadar glukosa dalam darah. Insulin dan glucagon ini dihasilkan dari karbohidrat yang kita makan.
2.      Uji Chlorida dalam Urine
1)      Chlorida yang terdapat pada urine berasal dari apa? Jelaskan!
Jawaban:
Klorida berasal dari  NaCL atau garam dalam darah yang sudah tidak terpakai.
2)      Apakah chloride selalu terdapat dalam urine? Jelaskan!
Jawaban:
Iya, Klorida selalu terdapat pada urine.
Pada urine normal mengandung sedikit klorida karena jika klorida terlalu banyak, maka akan mengakibatkan gangguan pada ginjal misalnya pengendapan Kristal di ginjal atau sering kita sebut sebagai batu ginjal.
Klorida pada urine berasal dari garam dalam darah. Karena garam atau NaCl merupakan bagian utama dalam darah yang berfungsi sebagai anion yang paling berperan dalam mempertahankan keseimbangan elektrolit.
3)      Tuliskan reaksi kimia yang terjadi pada percobaan di atas bila uji tersebut positif!
Jawaban:
Urine + AgNO3 à Urine berwarna bening + endapan putih
3.      Uji Amonia dalam Urine
1)      Berasal dari apakah amonia dalam urine tersebut?
Jawaban:
Amonia dalam urine berasal dari urea.
2)      Enzim apa yang bekerja?
Jawaban:
Enzim yang bekerja adalah enzim Arginase, yang terjadi pada proses penguraian Arginin.
Reaksi ini melengkapi tahap reaksi pada siklus urea. Dalam reaksi ini arginine diuraikan menjadi urea dan ornitin. Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi penguraian ini arginase  yang terdapat dalam hati. Ornitin yang terbentuk dalam reaksi hidrolisis ini bereaksi kembali dengan karbamilfosfat untuk membentuk sitrulin. Demikian seterusnya reaksi berlangsung secara berulang-ulang merupakan suatu siklus. Adapun urea yang terbentuk dikeluarkan dari tubuh melalui urine.
Arginin à ornitin + urea
VIII.  Simpulan
Menurut hasil praktikum yang kami lakukan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
1)      Pada Urine milik praktikan tidak mengandung glukosa yang ditandai dengan berubahnya larutan urin saat diuji menghasilkan perubahan warna menjadi biru.
2)      Pada Urine milik praktikan mengandung klorida radikal dengan konsentrasi yang sedikit sekali yang ditandai dengan adanya sedikit endapan putih pada larutan uji setelah diberi beberapa tetes AgNO3.
3)      Pada Urine praktikan mengandung amonia dengan konsentrasi sedikit yang ditandai dengan bau amonia yang tidak terlalu pekat atau tidak begitu tercium bau.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Siklus Urea dan Aspek Klinisnya. [online] Tersedia http://ferakiyoto.blogspot.co.id/2012/04/makalah-siklus-urea-dan-aspek-klinisnya.html diunduh pada tanggal 19 Januari 2018.


LAMPIRAN

·         Hasil Pengamatan Urine setelah diuji
Keterangan:
Dari kiri ke kanan yaitu uji amonia, uji klorida dan uji glukosa dalam urine

·         Presentasi Kadar glukosa dalam urine


·         Pada saat pembakaran benedict di atas api spristus


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN "PROSES OKSIDASI DAN PROSES RESPIRASI"

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN "AKTIVITAS ENZIM AMILASE"

PRAKTIKUM 1_ FISIOLOGI HEWAN_ "SISTEM PENCERNAAN PADA Paramecium sp."